From Nature to human

From Nature to human
Kekayaan Alam yang melimpah berada dipenghujung punah dan bencana ekologi tiada bisa dihentikan, berilah ruang untuk kehidupan rimba untuk berinteraksi di rumahnya, dan stop penghancuran hutan alam

Sabtu, 20 Februari 2010

Pedebatan warna bulu Ungko yang ada di Riau



Saat pertama kali memulai pengamatan, aku sempat bertanya kepada seorang kawan di sebuah Mapala dan percakapan itu pun di mulai dari sebaran ungko atau lebih kerennya dibilang hylobates agilis. pada saat membahas sebaran dia mengatakan aku kurang tau yah apa ungko itu dan dimana saja dia ada.
lalu aku sedikit menjelaskan, untuk sebaran hylobates sendiri ada dibeberapa negara yaitu Thailand, malaysia, dan Indonesia. di indonesia ada tiga sebaran yaitu Sumatra, Jawa dan kalimantan, untuk Sumatra ada tiga bagian sub spesies yang berbeda yaitu pada bagian sumatra bagian sabang lingkupnya Aceh dan Sebagian Sumatera utara itu termasuk Hylobates Lar dan bagian Kepulauan mentawai itu Hylobates Kolossaii dan sebagian besar sumatera seperti, Sebagian dari Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Jambi adalah bagian hylobates Agilis. Sedangkan Jawa memiliki sub spesies Hylobates Molock dan kalimantan memiliki dua sub spesies yaitu hylobates Agilis pada bagian kaki pulau Kalimantan dan sebagian besar pulau adalahhylobates muelleri....

mendengar penjelasan ku itu temanku malah bertambah bingung.... apa bedanya antara semua itu..? lalu kujawab kembali semua itu berbeda mulai dari bentuk, bulu, dan suara. saat itu yang aku pikirkan kok malah dia bertanya bukannya aku aku kan belum lama mengamati ini dan mempelajari ini serta masih banyak kurang, kenapa dia yang jadi bertanya dan aku kok bisa ngamlang menjelaskan itu kepada dia... ucapku didalam hati.

percakapan terus berlangsung dan masuklah kedalam perbincangan warna bulu yang ada pada ungko di Riau sendiri, aku membuka terlebih dahulu dan mengatakan bahwa ungko di Riau itu ada tiga warna bulu, pertama hitam dengan alih bergaris putih, kedua abu-abu dengan garis alis muka juga putih dan ketiga orange dengan garis alis muka putih, namun sat belum selesai aku menjelaskan temanku memotong, yang aku tahu nga ada warna orange dan hitam, yang hitam itu bukannya siamang ( Simphalangus) dan orange itu juga mana ada di Indonesia. aku tersenyum sendiri dan mengatakan aku menjumpai itu selama pengamatan tingkah laku ungko selama dua bulan nonstop di hutan sisa Kecamatan Kampar Kiri tahun ini ( 2005-2006) dan aku menemukan itu, ujarku kepada rekanku itu. Dan dia terus pada pendiriannya mengatakan itu tidak ada, lalu aku membuka file dan memperlihatkan foto ungko bewarna hitam dan orange yang ku temukan, namun itu tidak membuat dia menyadari dan tetap ngotot akan pendiriannya. Aku pun berusaha menjelaskan kepadanya itu bisa saja terjadi dan bisa saja ada atau warna orange ini hanya untuk sementara waktu anak-anak sampai remaja saja dan setelah itu berganti warna hitam ataupun abu-abu.

debat akan warna bulu ini berlangsung lama sampai aku bosen menjelaskan kepada rekanku itu dan akhirnya aku mengatakan kita sama-sama mencari info di internet dah jika kita dapat maka kita bahas lagi masalah ini. keesokan harinya aku menelpon dia kembali dan mengajak membahas tentang yang kemarin karena aku anggap itu belum kelar jika dia sendiri belum mengatakan iya atau itu salah, namun saat itu dia mengatakan aku di luar kota dan mungkin akan lama punlangnya. Dan sedikit merasa kecewa aku memahamninya dan mengatakan oke lah lain waktu kita bersua kembali, namun disaat aku kekampus aku bersua dengan dia dan dia berusaha menghindar dari aku dan aku cuek saja karena dia mungkin belum berangkat itu pendapatku tentang dia.

sejak itu dia setiap kali berjumpa dengan ku selalu menghindar dan sesekali aku berjumpa dia dan dia tidak bisa menghidar dan kutegur lalu aku mengatakan kenapa selalu menghindar, dan nga perlu seperti itulah jika tidak mau mengulas yang kemarin juga tidak apa-apa kok. sejak sat itu aku selalu mencari info dan membahas sendiri mengenai ungko ini, setiap kali menemukan yang baru baik itu sistem pakan, kawin hingga beranak aku selalu membahas sendiri dan mencari info dari internet, dan sampai saat ini aku selalu mencari sendiri dan pergi mengamati sendiri prilaku ungko di hutan-hutan sisa yang ada di Kecamatan kampar kiri, selain dekat dengan kampung ku, juga bisa menghemat biaya perjalanan dan juga aku senang melakukan sendiri dari pada ditemani karena aku menganggap sendiri itu lebih bagus dan baik dari pada ramai-ramai karena akan memecah kosentrasi dan membuat para koloni ketakutan.

dari tahun 2005 hingga saat ini aku terus melakukan pengamatan walau hanya sesekali untuk memperbaharui data-dataku dan mencari lokasi baru karena hutan yang dirambah untuk dijadikan perkebunan sawit dan karet oleh masyarakat tempatan. dan saat ini aku menemukan kemabli lokasi baru yang memiliki dua belas kelompok ungko yang memiliki anggota koloni yang berbeda.
dan sekali lagi pengamatan ini aku lakukan sendiri lagi dengan biaya dari sisihan dari uang jajanku dan sedikit hasil kerjaku.

harapan ku kedepan semoga ada yang bisa menjadi donatur ku baik itu membantu untuk peralatan maupun dana, jika tidak ada aku akan terus berharap dan terus melakukanpengamatanku hingga data-dataku bisa menjadi satu kesatuan yang bisa dimanfaatkan. semoga......

Tidak ada komentar: