Wonderful Kampar Kiri

Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu, memiliki Spot-spot wisata yang menarik baik itu wisata Budaya maupun wisata alamnya. untuk informasi tentang paket wisata bisa menghubungi admin RNA (Riau Nature Adventur) di No WhatsApp dengan Nuskan Syarif 085264595922

Kamis, 27 Oktober 2022

Keindahan Kenegerian Terusan

 

Sejak abad ke-6 pedagang dari Gujarat India mengembangkan agama Budha di Kuntu. Ini dibuktikan dimana di Kota Tinggi (Sungai Sontan Kuntu) terdapat kuburan raja darah Putih (Gagak Jao) dengan batu nisan bertuliskan huruf Kawi yang belum bisa diartikan oleh penduduk setempat, pada masa inilah Permaisuri Raja Putri Lindung Bulan menyebut daerah ini dengan sebutan “Kuntu Turoba” yang berarti aku dari tanah tempatku berpijak. Kuntu sendiri berada di Das Sungai Subayang. 

Pada tahun 670-730 M, terdapat dua kerajaan besar yaitu Cina di timur (beragama budha Mahayana) dan Khalifah Muawiyah di barat (beragama islam) masing-masing hendak memonopoli perdagangan, menanamkan pengaruh ekonomi dan agama. Namun politik Muawiyah lebih berhasil dibanding Cina sehingga abad ke-8 agama islam (syi’ah) masuk dan berkembang di Kuntu.

Dakwah pengembangan islam terhenti selama 4 abad disebabkan Cina merasa terganggu kepentingan ekonomi dan pengembangan agamanya, maka Cina mengutus dua orang sarjana agama Budha yaitu: Wajaro Bodhi dan Amogha Bajra. Sejak saat itu, pedagang dari Arab dan Persia tidak datang lagi ke Kuntu Timur. Pada masa inilah apa yang diistilahkan “Apik Tupai, Panggang Kaluang” dimana pada saat itu penduduk kehilangan pedoman/tuntunan agama.

Pada permulaan abad ke-7 sesudah Rajendra Cola dari India Selatan berhasil melumpuhkan Sriwijaya. Maka raja Palembang bernama Aria Darma mengirim surat ke Muawiyah meminta dikirimkan Ulama/mubaligh. Menindak lanjuti permohonan raja Palembang tersebut, maka Khalifah Muawiyah mengutus Syekh Burhanuddin. Yang akhirnya sampai ke Kuntu untuk mengembangkan Islam Mazhaf syafi’i kurang lebih selama 20 tahun.

Kesultanan Kuntu Kampar terletak di Minangkabau Timur, daerah hulu dari aliran Kampar Kiri dan Kanan. Kesultanan Kuntu atau juga disebut dengan Kuntu Darussalam di masa lalu adalah daerah penghasil lada dan menjadi rebutan Kerajaan lain, hingga akhirnya Kesultanan Kuntu dikuasai oleh Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Kini wilayah Kesultanan Kuntu hanya menjadi sebuah cerita tanpa meninggalkan sedikitpun sisa masa kejayaan. 


Kenegerian Tarusan/Terusan saat ini masuk kedalam wialayah administrasi kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kenegerian tarusan Sendiri menjadi bagian dari Kerajaan Gunung Shailan yang berada di hilir tepatnya di pinggir sungai Kampar Kiri. sebagai bagian dari Kerajaan Gunung Shailan kenegerian Tarus memiliki corak dan adat yang sama dan Kenegerian Tarusan juga masih memiliki kekentalan corak budaya Ranah Minang khususnya Kerajaan pagaruyung.
 
Kenegerian Tarusan kini menjadi desa Terusan yang terletak di DAS Subayang, kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar provinsi Riau berjarak dari Pekanbaru ke ibu Kota Kecamatan (Desa Gema) menggunakan kendaraan roda empat ataupun roda dua sekitar 2,5 jam perjelanan atau sekitar 87 KM, dari Ibu Kota kecamatan naik Perahu menuju ke Desa Terusan selama 2,5 jam perjalanan. 
Sebagai Bagian dari Kesultanan Kuntu Kenegerian Tarusan juga memiliki hasil bumi yang melimpah, salah satunya adalah Damar dan Rotan, selain itu rempah-rempah berupa lada dan cengkeh juga menjadi komoditi di kenegerian Tarusan yang mana hasil bumi tersebut di bawa dengan menggunakan perahu pada zaman dulu menghilir dan begalah. 
 
(Photo rumah Soko/umah siompu Kenegerian Pangkalan Kapas)


 
 
Berbicara soal adat istiadat Kenegerian Tarusan memiliki kultur adat istiadat dari kerajaan pagaruyuang di Sumatera Barat dan hingga saat ini tradisi dan adat istiadat masih lekat dipakai. corak rumah godang/umah siompu masih memakai bagonjong Limo. untuk rumah godang/umah siompu saat ini sudah banyak yang rubuh dan menjadi kenangan, di kampar Kiri masih ada satu umah godang yang berada di Desa Lipatkain selatan, sedangkan di desa Padang sawah masih ada rumah soko suku2 yang masih berdiri kokoh walau tidak begonjong, dan untuk di kampar kiri hulu di Kengerian Pangkalan Serai, Ludai dan pangkalan Kapas masih berdiri rumah godang walau masih ada beberapa yang di huni namun banyak juga yang tidak laik huni. Sedangkan di kenegerian Tarusan umah godang ini hanyut oleh banjir bandang pada tahun 1974 lalu demikian juga dengan rumah-rumah godang lainnya yang berada di kengerian-kengerian di hilir Tarusan. Umah siompu ini seharusnya dijadikan cagar budaya oleh Pemerintahan Kabupaten Kampar dan provinsi Riau, namun kenyataanya keberadaan umah siompu ini tidak mendapat perhatian penting dari pemerintahan daerah. 

Kenegerian terusan memiliki luas wilayah adat +/- 4.867 Ha, yang berbatasan langsung dengan kenegerian Pangkalan Serai, Kenegerian Aur Kuning, Kenegerian Miring/Malako Kociak, Kenegerian Pangkalan Indarung. Dengan luas wilayah adat ini didalamnya banyak terkandung kekayaan hayati, selain itu seluruh wilayah adat kengerian Tarusan ini masuk kedalam Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Dengan topografi perbukitan dengan kemiringan diatas 30 Derajad, Kenegerian Tarusan memiliki banyak anak sungai dan puncak-puncak bukit yang indah dan bisa menikmati gugusan bukit barisan yang ada. 
 

Sungai subayang yang melintasi Kengerian tarusan yang menjadi jalur transportasi satu-satunya bagi masyarakat adat di sepanjang sungai subayang. dengan riam air yang deras dan kiri kanan bebatuan padas pemandangan indah hutan alam yang masih asri juga menjadikan nuansa keindaha yang menyejukan. kehidupan masyarakat yang harmonis juga sangat membuat suasana berasa berada di rumah sendiri, keramahan masyarakat bagai menemukan sebuah emas di tengah kesulitan. 
Budaya dan Adat istiadat yang ada dimasyarakat kenegerian tarusan juga masih dipegang teguh, banyak atraksi budaya yang bisa kita saksikan pada momen-momen tertentu, mulai adat nikah kawin, anak turun mandi kesungai, bukak lubuk larangan dan banyak lagi yang momennya tidak terjadwal. 
 
Sebagai Salah Satu Kenegerian yang berada di dalam SM Bukit Rimbang Bukit Baling, masyarakat Kenegerian Terusan mengandalkan hutan untuk sumber kehidupan harian mereka, hasil hutan baik kayu dan Hasil hutan bukan kayu menjadi sumber perekonomian penopang dan tambahan bagi masyarakat selain menakik karet yang menjadi sumber penghidupan utama. 
Disaat buah hutan melimpah, ini menjadi sumber penghidupan

tambahan bagi masyarakatnya, jenis buah-buahan yang beraneka ragam mulai dari Tampui, Tughiang, Idan, cempedak hutan, cesnut/Bangan/berangan. Selain itu jika petai musim maka penghasilan masyarakat di kenegerian Tarusan akan bertambah, hutan-hutan di wilayah adat memiliki kekayaan yang luar biasa, selain itu madu sialang dan damar juga menjadi komoditi di Kenegerian Tarusan. kekayaan hayati yang di ada di Kenegerian Tarusan belum mendapat perhatian dari pemerintahan, sedangkan dari segi kekayaan HHBK saja ini bisa menjadi komoditi unggulan jika pemda Kabupaten Kampar serius untuk memajukan perekonomian masyarakat. 

Dari sektor pariwisata Kenegerian Tarusan memiliki tempat-tempat yang indah untuk di kunjungi dan dengan sungai subayang kita bisa bertubbing di derasnya riam sungai subayang. pengelolaan pariwisata di sini memang berbenturan dengan kebijakan dari pemerintahan karena masuk kedalam kawasan lindung. namun bisa di siasaati dan berkerjasama dengan BBKSDA sebagai pemangku kawasan. Kenegerian Tarusan untuk mengembangkan pariwisata akan menuju pariwisata khusus berbalut wisata budaya. 
 
untuk menikmati wisata di Kenegerian Tarusan Kawan-kawan bisa memakai Jasa Guide RNA_Reborn yang bekerjasama dengan Pokdarwis Batu Dulang Kenegerian Tarusan. dan setiap Tour yang kawan-kawan lakukan akan memberikan sumbangsih untuk kemajuan perekonomian masyarakat di sana, dan kita melibatkan seluruh masyarakat baik dari segi transportasi lokal (air), konsumsi selama berkegiatan di kenegerian Tarusan. 



 
 


Tidak ada komentar:

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman