From Nature to human

From Nature to human
Kekayaan Alam yang melimpah berada dipenghujung punah dan bencana ekologi tiada bisa dihentikan, berilah ruang untuk kehidupan rimba untuk berinteraksi di rumahnya, dan stop penghancuran hutan alam

Sabtu, 06 November 2010

Kekayaan Hutan Alam

Hutan sebagian orang melihatnya sebagai bagian yang harus di hancurkan dan diganti dengan HTI serta kelapa sawit, namun sebagian orang lain melihat sebagai sumber kehidupan, demikian juga dengan diriku yang melihat hutan sebagai tempat menempah ilmu selain dibangku perkuliahan.

di hutan bisa mengadakan penelitian, pengamatan, refresing, dan banyak kegiatan yang positif dilakukan dalam hutan. Tapi sayang saat ini hutan dari hari kehari mengalami penurunan luasnya, dan jutaan kekayaan biosfer hilang tak berbekas.

Hutan alam ,menyimpan berbagai macam obat-obatan, satwa dan kekayaannya yang lain. Hutan juga menjadi tangkapan air di hulu sungai, namun saat ini hutan alam sudah tidak ternilai lagi.

Mengapa ini terjadi..? mengapa hutan alam hilang dengan sangat cepat, jawabannya adalah terletak pada kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Hutan alam menjadi tempat tinggal jutaan kekayaan flora dan fauna, selain itu hutan alam juga menjadi tempat tinggal bagi suku pedalaman, namun pemerintah tidak melihat dari kultur jaringan kehidupan itu.

Beberapa Kelompok Masyarakat pedalaman kehilangan hutan tempat mereka menggantungkan hidupnya dan anak-anak mereka, seperti yang terjadi pada suku Talang Mamak dan Suku Sakai, karena kebijakan pemerintah mengeluarkan izin untuk HPH/HTI dan perkebunan kelapa sawit, hidup mereka tersingkirkan dan disia-siakan.
Hutan alam sangat vital bagi kehidupan manusia, namun manusia menyia-nyiakan itu dan menilai hutan alam itu hanya sekedar pepohonan yang tak berarti.

Rabu, 03 November 2010

Kucing Hutan Masih Marak di Jual dipasar Satwa Pekanbaru


Pekanbaru merupakan sebuah kota yang sangat pesat perkembangannya, Pekanbaru juga merupakan daerah tujuan dari perdagangan satwa di Riau. beberapa Pasar satwa menjual berbagai jenis satwa lindung, diantaranya Hylobates agilis ungko, symphalangus sindacktilus ( siamang), kucing hutan, kukang, musang.

seperti yang terjadi dipasar Burung Palapa jalan durian Pekanbaru, aneka satwa lindung terus saja di jual baik dengan harga termurah Rp. 250.000,- untuk Kucing hutan dan Kukang sampai yang termahal Rp. 3.000.000,- untuk ungko dan siamang. selain itu burung Kuaw (merak sumatera) di hargai berkisar Rp. 250.000,- hingga 1.500.000,-.

Pemerintah yang bertanggung jawab atas perlindungan satwa lindung tersebut tidak melakukan apapun dalam perlindungan satwa ini. dan malah terkesan dibiarkan dan menutup mata. Dinas Kehutanan yang memilili banyak pegawai tidak melakukan tindakan fresentatif terhadap kejadian ini.

KSLH (Kelompok Study Lingkungan Hidup) melakukan sidak di beberapa pasar burung dan kios-kios penjualan satwa, disana kami mendapati banyak satwa lindung yang diperjual belikan secara terang-terangan. dan terkesan sudah biasa.
harapan dari KSLH adalah penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan satwa liar dilindungi atau bekerja sama dengan instansi yang berkompeten untuk permasalahan perlindungan satwa, tapi sayang semua itu hanya isapan jempol belaka dan ibarat pepatah jauh panggang dari api, yah lambat laun satwa langka akan benar-benar binasah dan hutan alam sebagai rumah mereka akan hilang berganti dengan HTI dan perkebunan kelapa sawit.

Kucing hutan merupakan salah satu satwa yang tingkat perdagangannya berada di level 3 dengan harga jual yang lumayan menggiurkan, Rp. 250.000,- hingga Rp. 500.000,- bisa dibeli dipasar dan kios-kios satwa di kota pekan baru, bebas hukum, bebas memilih dan bebas memesan.

Selasa, 02 November 2010

Rentannya Hylobates agilis ungko terhadap Asap


hylobates agilis ungko, adalah monyet besar yang hidup di dataran rendah Sumatera, dan di Riau, satwa ini mengalami penurunan yang sangat siknifikan. Ini dikarenakan oleh prilaku illegalloging, perambahan hutan serta, bergantinya hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit dan HTI.

dalam kurun waktu 5 (lima) tahun (Hasil penelitian SACA-Riau) satwa ini menurun julahnya berkisar 20 - 40 %, terlebih di saat sekrang ini kebakaran hutan dan lahan yang diakibatkan oleh degradasi hutan alam menjadi lahan perkebunan dan HTI membuat satwa ini kehilangan tempat tinggal. disaat asap datang, satwa ini akan mengalami sesak nafas akut dan mengalaimi penurunan nafsu makan serta lemah dan di ikuti dengan kematian.

hylobates Agilis ungko berada di garis merah dalam perlindungan atau Endangered (hampir punah). satwa ini membutuhkan hutan alam sebagai rumah dan homerank untuk kelangsungan hidup mereka. 60 % pakan dari satwa ini adalah buah kayu yang terdapat dihutan alam, 30 % dedaunan atau pucuk muda kayu hutan alam, 10% Buah kayu beringin dan 10% berupa buah rotan dan lumut.
SACA (Sumateran Agilis Concervasi Aliance) mencatat lajunya degradasi hutan dataran renda Riau membuat satwa ini mengalami penuruan jumlah dan populasinya, selain degradasi hutan alam yang menggila, perburuan juga menjadi permasalahan yang penting pada satwa ini.

dipasaran satwa ini dijual dengan harga Rp. 1.500.000,- hingga Rp. 2. 000.000,- padahal satwa ini termasuk dalam perlindungan satwa lindung dan langka dan ditetapkan dalam UU konservasi, namun kenyataannya satwa ini tidak terlindungi.

Asap menjadi dilema bagi satwa ini, dimana satwa ini sangat rentan terhadap asap dan bisa membunuh mereka. satwa ini amat sangat rentan terhadap asap akibat kebakaran hutan dan lahan, gejala awal mereka akan mengalami penurunan berat tubuh di ikuti dengan sesak nafas, dan meningkat menjadi radang paru-paru akut lalu menjadi kematian.
Saat ini ungko membutuhkan harapan hidup yang baik di hutan alam yang masih terjaga, dan satwa ini juga membutuhkan daerah jelajah untuk atraksi kehidupan mereka yang amat menakjubkan, dan pohon-pohon besar menjulang sebagai tempat tidur dan mencari makan mereka. Kebijakan untuk mempertahankan hutan alam sangat dinantikan jika itu tidak terjadi maka hylobates agilis ungko akan menghilang di Sumatera.