From Nature to human

From Nature to human
Kekayaan Alam yang melimpah berada dipenghujung punah dan bencana ekologi tiada bisa dihentikan, berilah ruang untuk kehidupan rimba untuk berinteraksi di rumahnya, dan stop penghancuran hutan alam

Jumat, 25 Juni 2010

Perjalanan Menyusuri hutan alam bersama Ninoeschan_jungle





Penyusuran dan jelajah Hutan alam merupakan sebuah perjalanan yang menyenangkan, di hutan alam kita bisa menikmati beraneka ragam tumbuhan dan satwa disepanjang perjalanan serta bisa melihat pemandangan yang indah-indah.

beberapa lokasi dapat dituju dengan menggunakan kendaraan umum dan pribadi, diantaranya
  • Kabupaten Kampar
Daerah Kabupaten Kampar memiliki beberapa daerah wisata alam, diantaranya di kawasan Hutan Cagar alam Bukit Bungkuk dari Kota Bangkinang Berjarak 15 Km kearah Sumatra Barat

Kekayaan alam Bukit Bungkuk


panorama Hutan Lam sepanjang Anak-anak sungai
Kecamatan Kampar Kiri

Kampar Kiri Memiliki beberapa lokasi hutan alam sisa yang bisa dijelajahi. menjelaha hutan alam sisa di Kecamatan Kampar kiri sangat mengasikkan, di beberapa kawasan kita bisa menikmati suara-suara ungko (Hylobates Agilis) yang saat ini diambang kepunahan, mengamati burung, memancing di beberapa anakan sungai, dan bersampan di Bendungan Sungai Paku.
Panorama Hutan sisa



bagi yang suka menjelajah alam dan tertantang untuk mengadakan perjalan santai di hutan alam dan anak-anak sungainya dapat menghubungi saya di :

Nuskan Syarif
d/a Jalan Aceh No. 08 tangkerang selatan
Pekanbaru Riau 28282
no contack 08126849469
E-Mail : ninoes_jungle@yahoo.co.id

lokasi perjalan bisa dipilih dan disesuaikan dengan kemampuan sang penjelajah.

Selasa, 22 Juni 2010

Perancis Jadi Abu, Afsel Jadi Arang


KOMPAS.com - Kesebelasan Perancis kalah 1-2 dari Afrika Selatan, pada lanjutan babak penyisihan grup Piala Dunia 2010 Afrika Selatan (Afsel), melawan tuan rumah, Selasa (22/6/2010). Hasil ini membuat kedua kubu sama-sama gagal masuk babak 16 besar.

Perancis dan Afsel berada di Grup A bersama dengan Meksiko dan Uruguay. Uruguay berada di puncak klasemen dengan empat poin dan surplus tiga gol, Meksiko berada di tempat kedua dengan empat poin dan surplus dua gol, Perancis berada di tempat ketiga dengan satu poin dan defisit dua gol, dan Afsel di tempat terakhir dengan satu poin dan minus tiga gol.

Saat ini, semua tim sudah selesai memainkan laga terakhir mereka. Sementara Perancis kalah 1-2 dari Afsel, Meksiko kalah 0-1 dari Uruguay.

Dengan begitu, Uruguay berhasil finis di puncak klasemen dengan tujuh poin dan surplus empat gol, Meksiko di tempat kedua dengan empat poin dan surplus satu gol, Afrika Selatan duduk di tempat ketiga dengan empat poin dan defisit dua gol, dan Perancis di tempat terakhir dengan satu poin dan defisit tiga gol.

Baik Afsel dan Perancis pantas kecewa karena sejak awal mereka sudah menyadari bahaya tersebut dan berusaha mengantisipasinya. Sebagai tim unggulan, baik Perancis maupun Afsel mencoba menekan tuan rumah sejak menit awal.

Pada menit keempat, Perancis menciptakan peluang gol pertama melalui Andre-Pierre Gignac. Namun, setelah eksekusi Gignac diamankanMoeneeb Josephs, mereka kesulitan mengembangkan permainan dan bahkan mulai tertekan.

Kesulitan Perancis semakin besar ketika gawang mereka dibobol oleh bek Bongani Khumalo pada menit ke-20. Memanfaatkan sepak pojok SiphiweTshabalala, Khumalo menanduk bola masuk gawang "Ayam Jago".

Nasib buruk Perancis tak selesai sampai di situ. Empat menit setelah ditinggal Afsel, Perancis dipaksa bermain dengan sepuluh orang, menyusul kartu merah yang diterima Yoann Gourcuff akibat menyikut kepada MacBeth Sibaya.

Afsel segera memanfaatkan momen itu untuk melanjutkan tekanan-tekanan mereka, yang berujung gol kedua dari kaki Katlego Mphela pada menit ke-37. Gol bermula dari kesalahan Gael Clichy mengantisipasi umpan Siphiwe Tshabalala. Akibatnya, Mphela berhasil menguasai bola dan melesakkannya ke dalam gawang Lloris.

Dalam situasi itu, Perancis masih mencoba memberikan perlawanan. Meski berhasil membuat lawan mengurangi tekanan, Perancis gagal memperpendek jarak, sampai peluit turun minum berbunyi.

Selama 45 menit pertama, Afsel menguasai bola sebanyak 60 persen dan melepaskan lima tembakan akurat dari 14 usaha. Sementara itu, Perancis menciptakan dua peluang emas dari enam percobaan.

Memasuki babak kedua, Afsel mencoba melanjutkan tekanan mereka. Hasilnya, pada menit ke-51, Mphela kembali nyaris menambah keunggulan Afsel. Memanfaatkan umpan Tshabalala, ia menembakkan bola, yang sayangnya membentur tiang gawang Lloris.

Tak mau terus tertekan, Perancis mencoba menggandakan serangan dengan mengambil risiko menurunkan kualitas pertahanan. Mereka kemudian sempat kembali terancam keboblan oleh tembakan jarak jauh Mphela pada menit ke-57. Namun, setelah itu, mereka berhasil melancarkan serangan yang berujung gol dari Florence Malouda pada menit ke-70.

Gol bermula dari pergerakan Franck Ribery di sektor kiri pertahanan Afsel. Mengandalkan kualitas individu, ia menggiring bola masuk ke kotak penalti.

Lajunya hampir terganjal oleh Moeneeb yang merangsek maju hendak menjegalnya. Namun, sesaat sebelum Moeneeb beraksi, Ribery melepas umpan ke depan mulut gawang, yang berhasil disontek Malouda menggetarkan jaring gawang Afsel.

Gol itu melambungkan moral dan kepercayaan diri Perancis. Mereka pun mencoba mempertahankan intensitas serangan. Di sisi lain, Afsel juga tak tinggal diam. Mereka terus berusaha meredam aliran serangan Perancis di tengah dan berusaha menyelipkan serangan.

Sayang, usaha kedua kubu malah membuat laga berlangsung alot. Permainan malah diwarnai aksi perebutan bola demi perebutan bola, tanpa diimbangi kemampuan melakukan serangan.

Menjelang akhir laga, Tshabalala hampir menjebol gawang Lloris. Memanfaatkan hasil tembakannya sendiri, Tshabalala berusaha menembakkan bola ke gawang yang sudah tak terkawal. Namun, sesaat setelah kakinya menyentuh bola, William Gallas berhasil memotong alur bola dan menjauhkannya dari gawang.

Itu adalah peluang terakhir pada pertandingan ini, karena tak lama setelahnya, wasit Oscar Ruiz meniup peluit tanda berakhirnya laga.

Selama 90 menit, Afsel menguasai bola sebanyak 56 persen dan melepaskan delapan tembakan tepat ke gawang dari 21 usaha. Adapun, Perancis menciptakan tiga peluang emas dari delapan percobaan. (*)

Susunan pemain:
Perancis:
Hugo Lloris; Bacary Sagna, William Gallas, Sebastien Squillaci, Gael Clichy; Alou Diarra (Sidney Govou 82), Abou Diaby, Yoan Gourcuff, Franck Ribery; Andre-Pierre Gignac (Florent Malouda 46), Djibril Cisse (Thierry Henry 55)
Afsel: Moeneeb Josephs;Anele Ngcongoa (Siboniso Gaxa 55), Bongani Khumalo, Aaron Mokoena, Tsepo Masilela, MacBeth Sibaya, Thanduyise Khuboni (Teko 78), Steven Pienaar, SiphiweTshabalala, Katlego Mphela, Bernard Parker (Syabonga Nomvethe 68)

Rabu, 16 Juni 2010

Hilangnya Hutan Alam Hilangnya Rumah Suku Marjinal

Hilangnya Luasan hutan membuat suku Pedalaman di beberapa daerah kehilangan tempat tinggal. Hutan menjadi vital bagi mereka dalam berinteraksi hidup antara satu keluarga dengan keluarga yang lain, walau berjauhan antara satu kepala keluarga mereka selalu berhubungan satu sama lainnya.

Keberadaan suku marjinal di negara ini selalu disingkirkan dan berusaha untuk di moderenisasikan namun tidak memberikan solusi bagi suku marjinal yang telah mendiami rimba turuntemurun dan tidak mengenal kemoderenan. Hutan menjadi tempat hidup mereka, hutan menjadi lapangan pekerjaan bagi mereka. solusi membuatkan perumahan bagi mereka tidak membuat mereka bebas berinteraksi di hutan. Selain itu hutan dihabiskan untuk kepentingan perkebunan Kelapa sawit dan mereka menjadi buruh lepas yang bergaji kecil dan malah dibohongi.

Tahun 2008 satu keluarga besar Suku Anak dalam melakukan perjalanan melangung, peristiwa ini bisa dimaklumi ketika mereka mendapatkan sebuah kemalangan dalam keluarga, namun itu tidak bisa terjadi berulangkali. terkadang istilah melangung bagi suku Anak dalam ini menjadi tren untuk menghindari kejaran makelar dan cukung atau induk semang yang menjadi tempat mereka menjual hasil hutan. hasil hutan yang mereka dapatkan dijual kepada pengumpul dan disana hasil hutan yang mereka bawa dibeli dengan harga murah dan terkesan dibohongi oleh cukong atau pengumpul sehingga mereka dibuat menjadi terbelit oleh hutang yang banyak dan terikat oleh hutang tersebut, sedangkan cukong menjadi kaya dari hasil pembohongan suku marjinal. Kebohongan yang dilakukan oleh cukong dan pengumpul membuat kehidupan suku pedalaman ini menjadi kian terjepit dan mereka seperti sapi perah yang harus membayar hutang yang besar kepada pengumpul dan cukong.
Perjalanan Suku Marjinal Lintas Provinsi dengan membawa seluruh anggota keluarga, Tua, muda hingga anak Kecil. Dok Tahun 2008
Dalam Perjalanan melangung mereka mengandalkan belai kasihan masyarakat disepanjang rute perjalanan mereka. dengan keadaan ini mereka melupakan jenis makanan apa dan kerjaan apa yang bisa mendapatkan uang untuk menghidupi seluruh keluarga disaat perjalanan ini terjadi. seperti satu keluarga yang melakukan perjalanan ini mereka memulai perjalan dari jambi menuju Riau, berlanjut ke Sumatera Barat dan kembali lagi ke Jambi dengan keadaan yang menghawatirkan dan kehidupan mereka juga seperti orang buangan yang tidak berguna. melakukan perjlanan jauh dengan berjalan kaki mereka harus berjuang mempertahankan hidup dengan meminta-minta dijalanan dan mengharap uluran tangan dari pengguna jalan.


Keluarga Besar Pak Saleh



Kebahagiaan Mereka adalah tanggung Jawab Negara ini

Cagar Alam Bukit Bungkuk

CA Bukit Bungkuk seluas 20.000 ha terletak di Kabupaten kampar, Propinsi Riau. dengan status Hukum CA Bukit Bungkuk ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 173/Kpts-II/1986 Tanggal 6 Juni 1986. dengan kekayaan flora dan faunanya :

1. flora : antara lain meranti (Shorea sp), bintangur (Calophyllum spp), kempas (Koompassia malaccensis maing), keruing (Dipterocarpus sp), balam (Palaquium gulta), durian hutan (Durio sp), kulim (Scorodocarpus boonensis), suntai (Palagium walsunrifolium), dan rengas (Gluta renghas). dan masih banyak yang lain

2. Fauna : beruang madu (Helarctos malayanus), harimau loreng sumatera (Panthera tigris sumatrensis), rusa (Cervus timorensis), kancil (Tragulus javanicus) antara lain kera ekor panjang (Macaca fascicularis) antara lain ayam hutan (Gallus gallus), bubut besar (Centropus cinensis) antara lain biawak (Varanus salvator), bunglon (Colates spp), Siamang (Shimphalangus Sindactilus), Ungko (Hylobates Agilis), Beruk(Macaca nemestrina),Kucing Hutan (Felis bengalensis)beberapa jenis kupu-kupu, ngengat dan beberapa jenis Katak

Kucing Hutan (Felis bengalensis)
ancaman saat ini bagi Kucing Hutan adalah Hilangnya Tempat Tinggal mereka begitu juga dengan satwa-satwa lainnya, selain itu perburuan juga menjadikan satwa ini diambang punah.
Ungko (Hyilobates Agilis)
Ungko atau dikenal dengan nama hylobates agilis merupakan satwa yang menggantungkan hidupnya pada hutan alami, dan mereka memakan buah dari hutan alam juga, ungko saat ini dalam status Endangered (Terancam punah). di ungko di Indonesia hanya berada dipulau Sumatera saja, dengan semakin tergerusnya hutan alam oleh perkebunan kelapa sawit dan masyarakat yang kena demam perkebunan kelapa sawit mengakibat satwa ini kehilangan tempat tinggal dan semakin hari jumlah mereka semakin menurun




Jenis Kodok yang ada di CA Bukit Bungkuk Kampar

Dikawasan Cagar Alam Bukit Bungkuk terdapat beberapa jenis kodok dan katak seperti yang terlihat pada foto, kekayaan hayati yang dimiliki oleh Kawasan Cagar Alam Bukit Bungkuk membutuhkan perhatian khusus dari pemerintahan dan masyarakat seluruhnya agar kekayaan hayati dan ruang yang diperuntukan untuk mereka bisa terjaga dengan baik dan lestari.

Harimau Sumatera ( Panthera tigris)

Flora CA Bukit Bungkuk

Kawasan CA. Bukit Bungkuk selain menjadi kawasan hutan resapan bagi Bendungan Koto Panjang, jungan menjadi daerah resapan bagi anak-anak sungai yang melintasi beberapa desa dipinggir kawasan ini, seperti Desa, Sungai Durian, Desa Padang Laweh, Desa Merangin, Desa Kuok dan beberapa desa lainnya.
Kawasan ini dari hari kehari kian mengalami penurunan luasannya, ini dikarenakan lemahnya Pemerintah daerah untuk menjaganya, selain itu lemahnya pengawasan dari pihak yang berwajib yaitu Dinas Kehutan Kabupaten Kampar juga membuat Cagar alam Bukit Bungkuk diambang kehancuran, dengan kekayaan hayati yang sangat endemik kawasan ini menjadi menarik, kegunaan dan peraturan untuk kawasan ini juga sangat lemah, Cagar Alam merupakan daerah yang dikhususkan untuk Flora dan Fauna sehingga sangat tidak bisa dikunjungi oleh masyarakat.

Selain Flora dan Fauna, kawasan CA. Bukit Bungkuk menawarkan pesona yang sangat menarik, anak-anak sungai yang menjadi sumber air bagi masayarakat dihilirnya menyajikan panorama yang memukau dan indah.
Kawasan ini membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah daerah dan peranserta masyarakat disekitar kawasan agar kawasan Cagar Alam Bukit Bungkuk tetap lestari dan terjaga dengan baik, karena fungsi dari Cagar Alam ini sangat vital untuk pembangkit listrik Tenaga Air yang airnya berasal dari kawasan cagar alam Bukit Bungkuk, Selain itu sungai-sungai yang mengalir kepemukiman masyarakat juga berfungsi sebagai sumber air bersih dan sumber aliran buat kolam-kolam masyarakat dihilirnya.

Hutan adalah berkah Allah Buat manusia, kita wajib untuk menjaga dan melestarikannya demi kestabilan bumi. Tiada bisa menggenggam alam ini ditanggan kita karena kita tidak akan mampu, karena kita manusia berada dalam daur alam itu sendiri. Lestari Alam berada ditangan kita manusia, hancurnya alam juga berada ditangan manusia. tinggal kita hendak memilih hidup berdampingan dengan alam dan hidup nyaman dengan menghirup udara segar dan sejuk atau kita malah menjadi musuh alam, itu tergantung kepada kita manusia pilihan mana yang hendak kita pilih.