From Nature to human

From Nature to human
Kekayaan Alam yang melimpah berada dipenghujung punah dan bencana ekologi tiada bisa dihentikan, berilah ruang untuk kehidupan rimba untuk berinteraksi di rumahnya, dan stop penghancuran hutan alam

Sabtu, 20 Februari 2010

Tarian Alam

By : ninoes_jungle

Kabut putih berarak pelan di rimbunnya belantara
Menutup pepohonan dn daun
Menyisakan pucuk daun yang masih terlihat
Berarak keselatan mengikuti hembusan semilir angin, menyapa lembut segenap isi belantara

Aku duduk dipinggir bukit terjal dibelantara ini
Menikmati irama alam yang menyejukan seperti udara saat ini
Mendengarkan gemuruh air sungai didasar sana
Mendengarkan kicauan burung dan teriakan ungko yang sahut menyahutan

Senyumku mengembang
Menyaksikan keindahan tempat ini
Mengajak ku untuk menari bersama kabut putih yang menerpa pipiku
Membuai jiwa yang berada dihutan ini sendirian, hanya ditemani oleh segenap isi rimba

Sang peri hutan menari lembut diatas kabut putih yang berarak keselatan
Membelai lembut setiap jengka lebatnya hutan
Mengajak menari isi rimba yang masih enggan bangun
Mengecup ujung daun yang terlihat meringkuk kedinginan

Sambutan Hari ini adalah ciuman manis dari sang Tawon

Hari ini adalah hari Ketiga berada dihutan resapan didaerah Kelurahan Lipatkain Kecamatan Kampar kiri ini. hari pertama dan kedua berjalan dengan baik, hari pertama tidak dapat apa2, hari kedua disambut dengan kepakan burung rangkong dan hinggap tidak jauh dari aku, selain itu satu kelompok ungko juga berada tidak jauh dari tempat aku duduk dan terus bersuara. hari kedua ini amat komplit penyambutan mereka dan interaksiku dibawah mereka tidak dihiraukan.

hari ketiga aku kembali disambut oleh nyanyian ungko, mulai dari yang dekat hingga jauh dan burung rangkong juga tidak mau ketinggalan untuk melihatku ditempat yang sama walau sebentar. pengamatan bermula dari pukul 06.00 Wib hingga pukul 11.00 Wib, dalam rentang waktu ini ku manfaatkan buat mengamati dan merekam suara2 ungko baik yang jauh maupun yang dekat. pengamatan terus ku lakukan baik itu tingkah laku maupun jenis makanan yang dimakan oleh ungko tersebut. pengamatan beradasarkan suara berakhir pada pukul 09.00 Wib disaat sinar matahari merangsek kedasar hutan. aktivitas berubah drastis dari terikan menjadi sunyi tanpa gerakan dan dahan yang bergemeretak akibat lompatan. dari pukul 09.10 Wib aku mencoba mengamati ungko lain disepanjang sungai yang berair jernih dan mencoba mendata satu persatu kelompok yang kutemukan, namun kelompok yang kutemukan tidak banyak hanya 2 kelompok saja dan dua kelompok ini saja yang bisa aku amati gerak geriknya diatas pohon yang sedang berbuah.

setelah mengamati dua kelompok ungko yang berjumlah enam ekor (setiap kelompok ada yang empat ekor dan dua ekor), aku melanjutkan perjalanan di sepanjang sungai untuk mencoba melihat kehulu lagi dan apakah ada air terjunnya atau hanya gemuruh air yang terkena batu. aku terus menyusuri sungai dan berbelok pada anak sungai kecil yang berair jernih dan deras. perjalan terus ku lanjutkan sungai yang berbatu padas membuat telapak kakiku sedikit ngilu dan keram, daun panda yang berada didasar sungai membuat kaki dan tangan ikut tergores. namun semua itu tidak kuhiraukan dan aku terus menyusuri sungai kecil ini dan mencoba berharap menemukan satu kelompok ungko lagi. Namun perjalananku disungai kecil ini tidak membuahkan hasil namu sedikit terobati aku menemukan gerombolan kokah yang sedah bersenda gurau di atas pohon besar dipinggir sungai kecil ini.

setelah puas menikmati atrasi sang koka, aku kembali menyusuri sungai dan mencoba menaiki pinggiran sungai untuk keatas bukit yang terjal. aku terus menaiki bukit dan sesekali berhenti untuk menarik nafas dan minum, setelah itu terus menaiki bukit hingga sampai di bagian yang penuh dengan rotan. Disana sambutan dari ratusan tawon datang, aku di cium oleh ratusan lebah dan aku hanya diam sambil menutup mukaku dengan scraf yang berada dikepala dan terdiam seraya berkata " Aduuuh..kenapa kok banyak banget yang menciumi gua..... asalh jangan menyengat nga masalah ", namun disaat aku mengatakan jangan menyengat satu ekor tawon menancapkan ekor bisanya ketanganku dan yang lain juga mencoba mengikuti. Disaat begini jalan satu-satunya aku memilih kabur dari tempat ini. dan mereka terus menyerangku walhasil tangan ku mendapat tiga sengatan dan kepala mendapat dua puluh sengatan dan akupun terduduk lunglai di bawah kayu besar dipinggir bukit yang terjal itu. seraya berucap kepada seekor tawon yang masih menempel diselah jamtanganku " nah kan tadi sudah aku bilang jangan menyengat namun kalian masih aja menyengat dan aku juga bilang aku nga mengganggu kalian, tapi dua puluh tiga ekor dari kalian tetap aja menyerangku, jadi empat dari kalian mati dan ini kamu sendiri memilih matikan.... ujarku bisacara pada sang tawon yang berada dijariku "

dn aku kembali meneruskan perjalananku hingga keatas bukit yang ternyata sudah gundul akibat perambahan untuk dijadikan kebun karet dan kelapa sawit. aku terduduk melihat ini, sejauh mata memandang hanya hamparan pohon kayu yang bergelimpangan dan mulai menyeruak tumbuhan muda keluar dari kayu-kayu kering, dan aku hanya bisa berujar "ampun dah, seterjal ini mau ditanami apaan dan mau diapakan setelah ditebang begini, apakah seperti hutan yang lain setelah ditebang dan ditinggalkan begitu saja..... nga masuk akal manusia2 ini"
aku kembali meneruskan perjalan menuju sepeda motorku yang berjarak lima kilo dari posisiku saat itu. dan sesampainya aku disepeda motor ku hidupkan dan aku kembali keperkampungan dengan perasaan berkecamuk. Dan kenangan di hari ketiga ini disambut oleh ciuman manis dari ratusan tawon hutan.

Mentari Pagi di Hutan Resapan

................................Kampar 17 Februari 2010
by : Nuskan syarif
menyeruak dari balik bukit
bak bunga yang mulai mekar
memancarkan sinar kuning keperakan
menyapu lembut setiap jengkal tanah hutan
menyapa semua isi jagat raya

kepak sayap sepasang burung rangkong kembali terdengar dipagi ini
melintas tepat diatas ku
hinggap diatas pohon yang menjulang tinggi menggapai langit
bersenda gurau penuh damai

suara kelompok ungko terus membahana
bersahutan satu dengan lainnya
berduet dengan pasangan dan keluarganya
saling memacu oktaf suara demi teritorial
menjaga keluarga dan calon anak

ketika mentari menyinari hutan belantara disini
teriakan mulai menghilang satu demi satu
sang ungko kian menyembunyikan suaranya dari udara pagi yang mulai hangat
disaat mentari menyapu disetiap jengkal isi rimba ini

gemuruh air sungai yang menggodaku untuk turun
seakan memanggil untuk bergumul dengan ku didalam peluk sejuknya
harum bunga merebak disetiap milli selongsong dadaku
ditingkahi oleh kicau burung mencicit diatas ranting yang penuh buah kayu

liukan sungai mengalir deras
tiada henti dan tersekat
ikan-ikan berenang bergerombol
penuh damai dan bahagia

di atas sana
lebatnya hutan semakin dirongrong
julang kayu rebah bersama deru gergaji
tak akan lestari hutan disini
tak sejuk lagi air sungai

tidak ada rasa memiliki hutan ini
yang ada rasa memiliki lahan buat dibangu puluhan hektar perkebunan karet dan kelapa sawit
tidakkah ada rasa kelestarian dihatimu duh manusia
coba tanya dengan nuranimu jika itu pun kau miliki.

Pedebatan warna bulu Ungko yang ada di Riau



Saat pertama kali memulai pengamatan, aku sempat bertanya kepada seorang kawan di sebuah Mapala dan percakapan itu pun di mulai dari sebaran ungko atau lebih kerennya dibilang hylobates agilis. pada saat membahas sebaran dia mengatakan aku kurang tau yah apa ungko itu dan dimana saja dia ada.
lalu aku sedikit menjelaskan, untuk sebaran hylobates sendiri ada dibeberapa negara yaitu Thailand, malaysia, dan Indonesia. di indonesia ada tiga sebaran yaitu Sumatra, Jawa dan kalimantan, untuk Sumatra ada tiga bagian sub spesies yang berbeda yaitu pada bagian sumatra bagian sabang lingkupnya Aceh dan Sebagian Sumatera utara itu termasuk Hylobates Lar dan bagian Kepulauan mentawai itu Hylobates Kolossaii dan sebagian besar sumatera seperti, Sebagian dari Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Jambi adalah bagian hylobates Agilis. Sedangkan Jawa memiliki sub spesies Hylobates Molock dan kalimantan memiliki dua sub spesies yaitu hylobates Agilis pada bagian kaki pulau Kalimantan dan sebagian besar pulau adalahhylobates muelleri....

mendengar penjelasan ku itu temanku malah bertambah bingung.... apa bedanya antara semua itu..? lalu kujawab kembali semua itu berbeda mulai dari bentuk, bulu, dan suara. saat itu yang aku pikirkan kok malah dia bertanya bukannya aku aku kan belum lama mengamati ini dan mempelajari ini serta masih banyak kurang, kenapa dia yang jadi bertanya dan aku kok bisa ngamlang menjelaskan itu kepada dia... ucapku didalam hati.

percakapan terus berlangsung dan masuklah kedalam perbincangan warna bulu yang ada pada ungko di Riau sendiri, aku membuka terlebih dahulu dan mengatakan bahwa ungko di Riau itu ada tiga warna bulu, pertama hitam dengan alih bergaris putih, kedua abu-abu dengan garis alis muka juga putih dan ketiga orange dengan garis alis muka putih, namun sat belum selesai aku menjelaskan temanku memotong, yang aku tahu nga ada warna orange dan hitam, yang hitam itu bukannya siamang ( Simphalangus) dan orange itu juga mana ada di Indonesia. aku tersenyum sendiri dan mengatakan aku menjumpai itu selama pengamatan tingkah laku ungko selama dua bulan nonstop di hutan sisa Kecamatan Kampar Kiri tahun ini ( 2005-2006) dan aku menemukan itu, ujarku kepada rekanku itu. Dan dia terus pada pendiriannya mengatakan itu tidak ada, lalu aku membuka file dan memperlihatkan foto ungko bewarna hitam dan orange yang ku temukan, namun itu tidak membuat dia menyadari dan tetap ngotot akan pendiriannya. Aku pun berusaha menjelaskan kepadanya itu bisa saja terjadi dan bisa saja ada atau warna orange ini hanya untuk sementara waktu anak-anak sampai remaja saja dan setelah itu berganti warna hitam ataupun abu-abu.

debat akan warna bulu ini berlangsung lama sampai aku bosen menjelaskan kepada rekanku itu dan akhirnya aku mengatakan kita sama-sama mencari info di internet dah jika kita dapat maka kita bahas lagi masalah ini. keesokan harinya aku menelpon dia kembali dan mengajak membahas tentang yang kemarin karena aku anggap itu belum kelar jika dia sendiri belum mengatakan iya atau itu salah, namun saat itu dia mengatakan aku di luar kota dan mungkin akan lama punlangnya. Dan sedikit merasa kecewa aku memahamninya dan mengatakan oke lah lain waktu kita bersua kembali, namun disaat aku kekampus aku bersua dengan dia dan dia berusaha menghindar dari aku dan aku cuek saja karena dia mungkin belum berangkat itu pendapatku tentang dia.

sejak itu dia setiap kali berjumpa dengan ku selalu menghindar dan sesekali aku berjumpa dia dan dia tidak bisa menghidar dan kutegur lalu aku mengatakan kenapa selalu menghindar, dan nga perlu seperti itulah jika tidak mau mengulas yang kemarin juga tidak apa-apa kok. sejak sat itu aku selalu mencari info dan membahas sendiri mengenai ungko ini, setiap kali menemukan yang baru baik itu sistem pakan, kawin hingga beranak aku selalu membahas sendiri dan mencari info dari internet, dan sampai saat ini aku selalu mencari sendiri dan pergi mengamati sendiri prilaku ungko di hutan-hutan sisa yang ada di Kecamatan kampar kiri, selain dekat dengan kampung ku, juga bisa menghemat biaya perjalanan dan juga aku senang melakukan sendiri dari pada ditemani karena aku menganggap sendiri itu lebih bagus dan baik dari pada ramai-ramai karena akan memecah kosentrasi dan membuat para koloni ketakutan.

dari tahun 2005 hingga saat ini aku terus melakukan pengamatan walau hanya sesekali untuk memperbaharui data-dataku dan mencari lokasi baru karena hutan yang dirambah untuk dijadikan perkebunan sawit dan karet oleh masyarakat tempatan. dan saat ini aku menemukan kemabli lokasi baru yang memiliki dua belas kelompok ungko yang memiliki anggota koloni yang berbeda.
dan sekali lagi pengamatan ini aku lakukan sendiri lagi dengan biaya dari sisihan dari uang jajanku dan sedikit hasil kerjaku.

harapan ku kedepan semoga ada yang bisa menjadi donatur ku baik itu membantu untuk peralatan maupun dana, jika tidak ada aku akan terus berharap dan terus melakukanpengamatanku hingga data-dataku bisa menjadi satu kesatuan yang bisa dimanfaatkan. semoga......