From Nature to human

From Nature to human
Kekayaan Alam yang melimpah berada dipenghujung punah dan bencana ekologi tiada bisa dihentikan, berilah ruang untuk kehidupan rimba untuk berinteraksi di rumahnya, dan stop penghancuran hutan alam

Rabu, 15 April 2009

Akankah Suku Asli menjadi terlantar dijalan dan menjadi pejalan sejati di tengah teriknya matahari















Tahun 2007 akhir..............................

Perjalan menempuh ratusan Kilo meter telah dilakukan oleh satu keluarga besar suku anak dalam menempuh perjalan dari Jambi, Riau, dan Sumatera barat.

menjelajah jalan yang panas membakar kaki, namun tidak menjadi halangan mereka untuk melakukan perjalan untuk mendapatkan belas kasih dari orang-orang sepanjang perjalanan mereka

Dengan membawa keluarga besar dengan daerah tujuan Sumatera Barat, mereka mengadakan perjalan yang panjang dengan membawa semua keluarga besarnya. Ketika berada di Riau mereka telah melakukan perjalanan selama 3 (tiga) minggu, selama itu mereka hanya mengaharapkan belai kasihan dan rasa iba dari masyarakat setempat.
Di Kampar mereka bermalam semalam untuk melanjutkan perjalan esok hari, disini sebelum kami datang ditempat kejadian mereka diperlakukan tidak adil dan dianggap sampah dan berusaha diusir, dengan alasan akan membuat keributan. Setelah sebagian teman-teman dari Organisasi yang bergerak di Lingkungan berada disana dan mereka berbincang dengan Kepala desa setempat untuk mengijinkan mereka berada disana hanya untuk semalam dan jaminan kami yang berada di Pekanbaru.

Mediasi dan konsultasi teman-teman dilokasi terus di lakukan ketika kami dalam perjalanan dan mereka khawatir jika kami tidak datang maka mereka akan mengusir Suku Anak Dalam ini dari Desa tersebut, namun itu tidak terjadi ketika kami sampai dilokasi.
Sesampai diloksi kami langsung berdiskusi dengan Kepala desa setempat untuk mengijinkan SAD ini bermalam semalam didesa itu, namun setelah perjumpaan itu kepala desa berubah 180 derjat utuk turuk melindungi mereka dan memerintahkan memberikan makanan dan pengobatan kepada meraka yang sakit.

Perjalanan kembali dilakukan dengan berjalan kaki namun setengah jam perjalanan kami mendapatkan bantuan berupa mobil untuk mengntar Keluarga SAD sampai perbatasan Riau Sumatera Barat, namun perjalan ini amat melelahkan dan penuh emosi karena diperbatasan mereka juga mengalami hal serupa ketika diRiau, dan saat itu kami memutuskan untuk mengawal mereka sampai keperbatsan Sumatera Barat dan Jambi. Perjalanan ini menguras emosi karena Instansi pemerintah tidak akan membantu jika tidak ada mahasiswa didalamnya dan akankah kita akan menutup mata dengan berbagai kejadian seperti ini, masih ratusan keluarga Suku Anak Dalam yang melakukan perjalanan.

Jutaan Hektar hutan alam beralih fungsi menjadi perkebunan Kelapa sawit dan kita tidak memikirkan kehidupan suku asli yang ratusan tahun mengandalkan kehidupan dari hutan Alam. Akankah Hutan tidak penting bagi kehidupan, akan kah suku asli akan menghilang seperti suku Sakai saat ini. Hutan adalah sumber nafkah bagi suku pedalaman, hutan juga merupakan tempat kehidupan jutaan spesies, juga menjadi paru-paru dunia. Kerusakan hutan akan membuat suhu global akan naik dan itu telah terjadi.
Suku pedalaman saat ini menjadi objek pembodohan dan diusir dari tatanan budaya yang mereka pegang sejak dahulu.

Jambi ada suku Asli Suku Anak Dalam, Riau ada Suku Sakai dan Suku Kubu dan banyak lagi. Akankah kita mengerbankan mereka demi kantong pribadi, mari bersama selamatkan hutan dan berikanlah hak mereka untuk tetap hidup damai seperti sediakala. pembuatan perumahan untuk mereka bukan jalan keluar tapi mempertahankan hutan tempat mereka menggantungkan kehidupan adalah yang utama, bergandeng tangan untuk mempertahankan keanekaragaman Hayati dan bergandeng tangan untuk kelestarian.